Ads 468x60px

Senin, 16 April 2012

Memperbaiki Mental

Cara kita merasa adalah sesuatu yang secara kumulatif membentuk mental kita. Dari emosi ini pula kita menemukan sumber tenaga jiwa, yaitu berupa kemauan dan tekad, sesuatu yang kita butuhkan untuk bertindak.
Jika pikiran adalah akar karakter, maka mental kita adalah batannya; disinilah kekuatan dan kelemahan karakter ditentukan. Dari sifat mental, seseorang mendapat salah satu dari dua nama ini; berkepribadian kuat atau berkepribadian lemah.
Maka, cara kita merasakan sesuatu akan menemukan kuat - lemahnya dorongan jiwa untuk melakukannya. Warna perasaan kita adalah cermin bagi tindakan kita. Tindakan yang harmonis akan mungkin lahir dari warna perasaan yang kuat dan harmonis.
Jadi, mental adalah jembatan dimana pikiran kita berjalan menuju tindakan. Jembatan itu akan runtuh, jika dilalui oleh benak yang sarat pikiran yang melebihi kemampuan jiwa mewadahinnya. Jika yang sebaliknya terjadi, hidup seseorang akan kehilangan efisiensi dan efektifitas.

Langkah - langkah aplikatif untuk memperbaiki cara kita merasa atau mentalitas kita dapat dirumuskan secara sederhana dalam kalimat berikut:
Pengarahan + penguatan + Kontrol + Doa = Terapi Mental
Ket:
Pengarahan berarti bahwa perasaan – perasaan kita harus diberi arah yang jelas, yaitu arah yang akan menentukan motifnya. Misalnya mengapa seseorang harus bergembira atau bersedih. Setiap perasaan harus mempunyai alasan lahir yang jelas. Itu hanya mungkin jika perasaan dikaitkan dengan pikiran kita.
Penguatan berarti kita harus menemukan sejumlah sumber tertentu yang akan menguatkan perasaan itu dalam jiwa kita. Terkait dengan unsur keyakinan, kemauan, dan tekad yang dalam yang memenuhi jiwa, sebelum kita melakukan suatu tindakan.
Kontrol berarti kita harus memunculkan kekuatan tertentu dalam diri yang berfungsi mengendalikan semua warna perasaan diri kita.
Doa berarti bahwa kita mengharapkan adanya dorongan Ilahiyah yang berfungsi membantu semua proses pengarahan, penguatan, dan pengendalian bagi mental kita.
Dari rumusan tersebut kita bisa menjabarkan dalam sembilan langkah berikut ini:
Langkah I
Berusahalah untuk menghadirkan Allah dalam kesadaran kita, dan rasakan bahwa kita lah yang paling bertanggungjawab dihadapan-Nya atas diri kita sendiri. Saat kita merasakan adanya kontrol dari Allah secara langsung terhadap diri, kita akan menemukan kekuatan tertentu untuk mengendalikan diri dalam melawan godaan kerendahan untuk melakukan kemaksiatan.
Langkah II
Kuatkan rindu untuk dapat bertemu dengan Allah pada tempat tertinggi didalam surga. Jangan sekedar bermimpi masuk surga. Akan tetapi, bermimpilah untuk masuk ke tempat tertinggi dalam surga sehingga kita berpeluang melihat langsung wajah Allah. Jika rindu tidak terbatas, kita akan merasakan bahwa dorongan batin itu telah muncul dalam diri, sehingga memberi kekuatan untuk melakukan kebaikan.
Langkah III
Pertajam mata hati dan nurani, agar Ia dapat menangkap setiap gejala dosa sejak dini. Jika kita sensitif terhadap dosa, kita akan menemukan sifat rasional dan nurani. Ini akan membuat kita senantiasa berorientasi masa depan dan selalu terdorong untuk melakukan ibadah - ibadah murni sebagai sumber air nurani.
Langkah IV
Tenang. Itulah yang harus kita usahakan melekat dalam diri dalam segala situasi kejiwaan dan peristiwa kehidupan. Kita akan menjadi lebih tenang jika kita mau; selalu diam (tidak berbicara kecuali sangat penting), mampu menahan marah, dan tidak berharap atau terpengaruh dengan komentar dan perhatian orang lain. Sebab, orientasi kita adalah kebenaran, bukan pengakuan.
Langkah V
Jangan mudah terpengaruh oleh orang lain, baik dengan sanjungan mereka, apalagi kritikan mereka. Berusahalah untuk konsisten dengan nilai dan prinsip sendiri. Untuk itu harus ada rasa percaya diri dan berusaha menghindari semua tindakan yang tidak beralasan, hal ini akan memberikan orisinalitas kepribadian.
Langkah VI
Kuatkan daya tahan kita terhadap berbagai tekanan hidup dan perubahan – perubahan lingkungan sosial , ekonomi, politik , dan kehidupan secara umum. Untuk itu, kita harus belajar  menunda kebutuhan  - kebutuhan sesaat, khususnya yang bersifat biologis, lakukan puasa dan selalu bertawakal kepada Allah.
Langkah VII
Belajarlah mencitai orang lain dengan cara yang kuat dan jujur. Untuk itu belajarlah memperhatikan memberi dan berkehendak baik pada orang lain.
Langkah VIII
Berusahalah mempertahankan kegembiraan dan kelapangan jiwa anda setiap saat. Berusahalah mempertahankan keceriaan wajah anda, gunakan cara yang baik dalam berkomunikasi, dan belajarlah memahami orang lain lebih banyak.
Langkah IX
Hindari diri anda dari kekosongan dan kehampaan.  Jangan sampai akal kosong dari ilmu, jiwa kosong dari iman, dan fisik kosong dari perilaku yang baik. Kekosongan jiwa berarti membuka pintu bagi setan untuk masuk secara bebas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar